Showing posts with label HERITAGE. Show all posts
Showing posts with label HERITAGE. Show all posts

Wednesday, December 12, 2007

Kampung Naga

Kampung Naga merupakan suatu perkampungan yang dihuni oleh sekelompok masyarakat yang sangat kuat dalam memegang adat istiadat peninggalan Ieluhumya. Hal ini akan terlihat jelas perbedaannya bila dibandingkan dengan masyarakat lain di luar Kampung Naga. Masyarakat Kampung Naga hidup pada suatu tatanan yang dikondisikan dalam suasana kesahajaan dan lingkungan kearifan tradisional yang lekat.

Tuesday, December 11, 2007

Savoy Homan Hotel


Hotel Savoy Homann, Jalan Asia Afrika 112. Little more than a bamboo hut when the German family named Homann opened their hotel on the Post Road in the 1870s, the hotel was rebuilt after the advent of the railroad to Bandung in 1884. The hotel was rebuilt in a romantic style, completed with exposed timber and intimate verandahs. In 1936, the owner, Van Es., commissioned A.F. Aalbers to redesign the hotel in a style much like the architect’s popular work, the DENIS Bank on Jalan Braga, completed in 1935. Aalbers used an extreme horizontal line to guide the design and a ribbon of balconies line the front of the hotel. A tall tower was placed to break this horizontal plane and porthole windows complete the look that seems almost nautical in effect. It was visited by the likes of Hollywood stars such as Charlie Chaplin, who visited three times, the last time with the actress Paulette Goddard. The hotel was reopened in 1939, but parts of the complex date to the 1920s.

Central Police Station (Polwiltabes)

Central Police Station, Jalan Merdeka 18, 16. Opened at the Kweekschool, a teacher’s training school, it is of the earliest buildings in Bandung. Such illustrious graduates include Abdulharis Nasution and Otto Iskandardinata. The three front buildings are original but many new buildings have been made behind them. The complex serves as the central police station for Bandung and the building has been under threat of demolition for the past several years.


Villa Isola

Villa Isola, Jalan Setia Budhi 229.
Constructed in 1933 as a private home for an Italian named D.W Baretty, the building was designed by CP Wolff-Schoemaker. Beretty was the owner of an international news agency that later became
Indonesia’s Antara News Agency. Isola refers to the isolation of the residence when it was built on the dirt road going north to Lembang and Tangkuban Perahu. It was beautifully designed and gorgeously landscape and remains the foremost Art Deco monument I Indonesia. It is currently used as the Rector’s Office for the state teachers college, UPI.







Tuesday, November 27, 2007

The Main Post Office

The Main Post Office, Jalan Asia Africa 49. Built between 1928 And 1931 it began its function as the Post en Telegraaf Kantoor (the Post and Telegraph office). Today it functions as the main post office building, managed by PT Pos Indonesia. The architect was J. Ven Gent and it is considered to be in the style of Modern Functionalism, with geometric Art Deco detailing and tropically adapted roof style. In 1920 one corner of the building was out-fitted with a water well and a pump that supplied water to the residents of the city. The building was damaged during the war rebuilt in 1949, using many of its original fixtures and fittings that are still in use today.


Landmark Building

Landmark Building, Jalan Braga 131. Better remembered as the Van Dorp Bookshop, this building was designed by CP. Wolff-Schoemaker in the Indo-European Style. Of particular interest is the inclusion of traditional decorations such as the two giant Kala heads on the façade. It was a favored hangout for Bandung intellectuals and an annual sales volume of some 500,000 gulden per year (when a luxurious villa cost between 8,000 and 10,000 gulden. The building was purchased and re-used as the Landmark Exhibition Center in the 1990s.


St. Peter's Cathedral

St. Peter’s Cathedral, Jl. Merdeka 14.The church was designed in a modern Neo-Gothic Revival Style by C.P Wolf-Schoemaker in 1922. It is the cathredal for Bandung Roman Catholics and there is also a school in its complex, completed in 2000.















Bank of Indonesia

Bank of Indonesia, Jalan Braga 108.This beautiful building was designed in a Classical Revival Style and is one of the few remaining I the city. Planned by the firm of E.H.G.H. Cuypers in 1918, it was to house the Javasche Bank . It id the first building in Bandung to use reinforced concrete. The bank is currently the head office for Bank Indonesia in Bandung. A new additional unit was completed in the 1990s.




National Geology Museum

National Geology Museum, Jalan Diponegoro 57.This national collection is the centerpiece for geological studies in Indonesia. It was opened in 1929 and house large collections of geological and prehistoric artifacts, including the original fossil remains of Java Man. The building was renovated in 2001 by grant from the laboratory and research center, a library, and a unit where one can buy topographic maps of Indonesia.



Monday, November 26, 2007

The Gas Building

The Gas Building, Jalan Braga 38.Designed by R.L.A. Schoemaker in 1930, the Gas Building is of Modern Functionalism style with Art Deco detailing, and stands amid the other fine architectural works on Jalan Braga. It was used by the state gas company until the late 1990s.



Thursday, November 22, 2007

Masyarakat Olah Raga Prihatinkan Cihampelas

Masyarakat olah raga prihatin terhadap hilangnya beberapa aset sarana olah raga yang memiliki nilai sejarah khususnya di Kota Bandung. Ketua Sport Watch, Verdia Yosef, pada acara silaturahmi dan buka bersama cabor-cabor, di salah satu restoran di Jalan Surapati Bandung, Jumat (21/9), mengatakan, kasus kolam renang Cihampelas adalah salah satu contohnya.
Harus diakui, banyak sekali nilai historis yang ditorehkan dari keberadaan kolam renang pertama di Indonesia itu. Pihaknya menyayangkan jika akhirnya kolam itu nanti hilang.
Ia mengakui, sulit menahan hal tersebut karena kolam renang tersebut adalah milik perseorangan. Namun, ia berharap pemerintah daerah juga bisa memerhatikan hal ini sehingga minimal fungsinya bisa tetap dipertahankan contohnya melalui kebijakan.
"Undang-undang SKN juga mengatur tentang perubahan lahan tersebut. Kehilangan Cihampelas berarti kehilangan salah satu sarana yang memang saat ini sangat kurang di Jabar," ungkap Yosef.
Tentang kemungkinan action plan yang dilakukan pihaknya, Yosep mengaku, sampai saat ini masih menunggu karena pihaknya belum mendapat kepastian kapan lahan itu akan dijual. Namun, ia berharap PRSI Kota Bandung bisa proaktif memperjuangkannya.
Sementara itu, dari sumber "PR", kolam renang Cihampelas saat ini memang sudah ditawarkan dan sedang dalam proses balik nama dari pemilik sebelumnya kepada dua anaknya. Sudah ada beberapa penawaran dari beberapa pihak, namun sampai saat ini belum diputuskan kepada siapa lahan itu akan berpindah tangan.

Sumber: Pikiran Rakyat, Sabtu, 22 September 2007




Sejarah Renang Terancam Hilang

NILAI sejarah tidak bisa diukur dalam bentuk uang. Namun, kenyataannya sejarah sering kali dianggap sekadar masa lalu yang mudah dilupakan karena kehidupan metropolis saat ini selalu cenderung memandang ke depan.

Begitu pula di dunia olah raga. Banyak tempat bersejarah olah raga di Kota Bandung terancam raib karena berganti fungsi menjadi lahan komersial yang lebih menguntungkan secara ekonomi. Sementara, tidak ada lahan pengganti sehingga yang terjadi cabor-cabor selalu mengeluh kekurangan sarana untuk latihan.

Banyak contoh dan salah satunya yang sudah terjadi adalah hilangnya lapangan tenis Admiral di Dago. Tempat itu memiliki nilai sejarah tinggi khususnya bagi sekolah tenis FIKS yang telah melahirkan banyak petenis nasional seperti Angelique Widjadja. Namun, karena lahan lapangan itu merupakan milik pribadi, apa daya akhirnya lapangan tersebut lepas pula.

Saat ini, Kota Bandung juga terancam kehilangan salah satu tempat bersejarah olah raga lainnya yaitu Kolam Renang Cihampelas. Kendati belum pasti, dari penuturan beberapa kalangan renang terutama dari Klub Aquarius, santer terdengar kolam renang tertua di Indonesia itu akan segera hilang dalam kurun waktu enam bulan. Kolam tersebut akan dijual.

Hal yang wajar sebenarnya jika melihat kepemilikan tempat tersebut. Kolam Renang Cihampelas adalah milik perseorangan dan tentunya jika sang empunya merasa sudah tidak menguntungkan, ia berhak untuk melakukan apa pun terhadap asetnya. Tentunya, jika dijual memang akan lebih menguntungkan karena memang lokasi Cihampelas merupakan salah satu kawasan bisnis perdagangan yang ramai di Kota Bandung.

Namun, di balik hal itu ada satu persoalan yang dilupakan yaitu nilai sejarah kolam tersebut. Berdasarkan sumber dari PB PRSI, Kolam Renang Cihampelas adalah yang pertama dibangun di Indonesia dan digunakan oleh masyarakat umum. Cihampelas didirikan pada 1904, sehingga PRSI menganggap awal dari kegiatan olah raga renang di Indonesia dimulai di Bandung.

Tidak hanya itu, penamaan kawasan dan jalan dengan nama Cihampelas diambil berdasarkan nama kolam pemandian tersebut. Pada saat pembuatan kolam, di sekitar tempat tersebut banyak terdapat pohon hampelas (sejenis pohon berdaun kasar dan bisa digunakan sebagai penggosok). Sumber air yang digunakan untuk mengisi kolam berasal dari sekitar pohon hampelas tersebut.

Sampai saat ini kolam renang tersebut masih mengandalkan sumber mata air tersebut walaupun kini sudah mulai sedikit seiring bertambahnya kegiatan komersial di kawasan itu. Bahkan, pada musim kemarau lalu, kolam renang itu praktis tidak bisa digunakan karena merosotnya debit air dari mata air tersebut. Hal itu juga merupakan salah satu pertimbangan, ke depan kolam tersebut tidak akan bertahan lagi.

Sebenarnya masih banyak lagi tempat olah raga lainnya yang memiliki nilai sejarah dan terancam hilang. Kolam Renang Centrum misalnya, yang kini juga dikabarkan akan segera beralih fungsi menjadi hotel walaupun masih diperdebatkan. Belum lagi yang sama sekali telah hilang seperti lapangan sepatu roda Siliwangi yang belum tergantikan sampai saat ini.

Sebenarnya perubahan fungsi lahan olah raga telah diatur dalam UU Sitem Keolahragaan Nasional. Bahkan, sanksinya cukup berat. Namun, sampai saat ini belum ada petunjuk teknis tentang hal itu sehingga sulit untuk diimplementasikan. Apalagi hal itu menyangkut hak milik pribadi.

Menyangkut masalah Cihampelas tersebut kabarnya beberapa pihak dari kalangan masyarakat olah raga akan mulai bergerak. Seperti yang diusung Sport Watch yang telah menyatakan keprihatinannya mengenai banyaknya perubahan fungsi lahan olah raga termasuk masalah Cihampelas. Juru bicara Sport Watch, Darwin Suratman, mengatakan, pihaknya berharap pemerintah bisa mencarikan jalan keluar mengenai persoalan ini. Bagimanapun nilai sejarah tidak bisa dihilangkan.
Sumber: Pikiran Rakyat, Jumat, 21 September 2007

Kolam Renang Cihampelas Bakal Hilang

Kemungkinan Beralih Fungsi Menjadi Tempat Parkir
Setelah Lapangan Tenis Admiral, Bandung terancam kehilangan satu lagi fasilitas olahraga, yakni Kolam Renang Cihampelas. Kolam renang yang sarat nilai sejarah itu akan dijual pemiliknya.

Jalan Cihampelas Berasal Dari Kolam Renang?

Di tengah keramaian dan sesaknya kawasan belanja Cihampelas, ternyata terdapat sebuah kolam renang atau pemandian tertua di Kota Bandung. Kolam ini terletak di sisi jalan kecil Cihampelas yang kini merupakan Jalan Taman Hewan.
Kolam renang yang dibangun tahun 1904 ini awalnya berupa kolam ikan milik Nyonya Homann, istri

Monday, November 19, 2007

Sejarah Kolam Renang Cihampelas

Sejak sebelum kemerdekaan, di negara kita telah ada beberapa kolom renang yang indah dan baik. Akan tetapi pada waktu itu, kesempatan bagi orang-orang Indonesia untuk belajar berenang tidak mungkin. Hal ini disebabkan setiap kolam renang yang dibangun hanyalah diperuntukkan bagi para bangsawan dan penjajah saja. Memang waktu itu ada juga kolam renang yang dibuka bagi masyarakat banyak, akan tetapi